Oleh : Achmad Taurus
Tulisan terpublikasi di Harian Online Panji Kendari, edisi 27 September 2018
Desa Lantowonua terletak disekitar
kaki Gunung Kahar yang setiap saat diselimuti halimun. Desa ini memiliki
wilayah seluas 17,99 km2 dan secara administratif merupakan bagian dari
Kecamatan Rumbia, Kabupaten Bombana. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik
(Kecamatan Rumbia Dalam Angka, 2017) jumlah penduduk Desa Lantowonua tahun 2016
sebanyak 1.051 jiwa, dengan rincian laki-laki sebanyak 526 jiwa dan perempuan
sebanyak 525 jiwa. Jumlah rumah tangga sebanyak 244 jiwa dengan rata-rata
anggota rumah tangga sebanyak 4 orang.
Berdasarkan posisi geografisnya, Desa
ini memiliki batas-batas wilayah sebagai berikut: sebelah Utara berbatasan
dengan Kelurahan Lampopala, Sebelah Selatan berbatasan dengan Kelurahan Doule,
sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Rumbia Tengah dan sebelah Barat
berbatasan dengan Kelurahan Lameroro.
Letak Desa Lantowonua yang berada
dibawah kaki gunung memberikan keunggulan tersendiri, karena memiliki jenis tumbuhan
beragam yang berbunga sepanjang tahun. Selain itu, lereng pegunungan yang
bersuhu dingin merupakan tempat yang disukai lebah untuk berkembang biak,
karena dengan kondisi seperti ini lebah dapat beraktifitas dengan normal dan didukung
dengan tumbuhan berbunga yang dijadikan pakan.
Pengembangan Hasil Hutan Bukan Kayu
(HHBK) pada daerah kaki gunung, telah dilakukan oleh Dinas Kehutanan Provinsi
Sulawesi Tenggara dan tahun 2016 melakukan ‘Pelatihan Pengembangan Budidaya Lebah’.
Desa Lantowonua adalah salah satu desa yang terpilih dalam pelatihan tersebut dan
Pak Amris, 48 tahun yang bermukim tidak
jauh dari lereng Gunung Kahar sebagai peserta mewakili Desa Lantowonua.
Dari dana dan ilmu yang diperoleh
dalam pelatihan tersebut, Pak Amris dengan dibantu sang istri mulai mempraktekan
dengan memilih lokasi budidaya disamping rumah mereka. Lebah yang dibudidayakan
dari jenis Trigona sp yang menghasilkan
madu dan propolis. Hewan ini tidak memiliki sengat (stingless bee) dan bersifat nocturnal
(aktif pada malam hari).
Ciri morfologi lebah trigona sp berwarna hitam dan berukuran
kecil, panjang tubuh kurang lebih 3 - 4 mm dan rentang sayap kurang lebih 8 mm.
Perilakunya cenderung mencari lubang dan bulu rambut dan ketiak ketika
seseorang mendekat.
Budidaya madu dilakukan dalam kotak
kayu (stup) berukuran 20x15x15 cm, yang
bagian dalamnya tidak bersekat. Dibagian luar kotak pada disisi kiri atau kanan
dibuat lubang sebagai tempat keluar dan masuknya lebah. Stup disusun rapi pada tempat yang telah disiapkan, dengan cara digantung
dan diletakan pada tempat yang teduh. Masa panen dilakukan selama 3-4 bulan
setahun.
Selama melakukan kegiatan budidaya,
Pak Amris baru melakukan panen sekali yang menghasilkan enam botol madu dengan
harga Rp.100 tiap botolnya. Pak Amris dan istri tidak menjajakan madu tersebut,
tetapi konsumen sendiri yang langsung datang membeli dan untuk panen berikutnya
beliau sudah memiliki banyak pesanan.
Menurut Pendamping Desa Pemberdaya Kecamatan
Rumbia Tengah, Pak Idham, 27 tahun mengatakan “dengan banyaknya pesanan madu,
maka kegiatan ini akan lebih dikembangkan dengan memberi bantuan kepada Pak
Amris melalui Dana Desa Tahun Anggaran 2018”. Dana Desa diberikan untuk
pembuatan stup dan rehabilitasi
tempat budidaya madu. Selain itu, untuk memperluas pembelajaran akan diadakan
pelatihan kepada masyarakat terkait aspek budidaya madu.
Arah perubahan yang dapat dilakukan
jika objek ini akan diintervensi adalah:
1.
Menjaga ketersediaan tumbuhan berbunga disekitar
lokasi budidaya madu;
2.
Peningkatan kualitas pasca panen;
3.
Mendorong pengembangan HHBK lainnya;
Sedangkan langkah-langkah strategis yang akan
digunakan sebagai solusi penguatan
penangkaran madu
antara lain: Melindungi dan melestarikan tumbuhan
berbunga melalui pembelajaran sosial kepada masyarakat agar perspektif ekonomi,
sosial dan ekologi dalam pemanfaatan sumberdaya hutan; selain itu peralatan yang memadai untuk peningkatan kualitas pasca
panen seperti penggunaan sealer (alat
segel mulut botol) dan dehumi difier
untuk menghilangkan kelembapan serta peningkatan nilai komersial HHBK.
Manfaat
yang akan terjadi dari proses intervensi program adalah : 1) Ketersediaan pakan yang diperoleh dari tumbuhan
berbunga akan menentukan keberhasilan budidaya lebah; 2) Pasca
panen dengan menggunakan sealer dapat
memberikan higienisasi kemasan dan pengunaan dehumi difier untuk menurunkan kadar air dan mencegah munculnya
bakteri dan 3) Pengusahaan HHBK berdampak pada lingkungan hutan yang
jauh lebih kecil dibandingkan dengan pembalakan hutan (pemanenan kayu),
sehingga memberikan model pengelolaan hutan yang lebih menunjang upaya
pelestarian dan dapat menyediakan berbagai kebutuhan untuk menunjang kehidupan
masyarakat lokal.

